Sudah dari zaman behula masyarakat Indonesia punya banyak sekali budaya-budaya yang masih berlaku dan tidak akan pudar sepanjang zaman dari seluruh pelosok nusantara ratusan jenis suku dan marga mempunyai cari khas adat untuk memperingati moment-moment tertentu yang di yakini mereka sangat sakral atau suci, apalagi mendekati bulan Ramadhon seperti sekarang pastilah berbagai adat suku-suku di seluruh nusantara akan memperingat atau menyambuti bulan penuh bonus pahala dan kebaikan tersebut.

Bulan Ramadhon mengutip dari ceramah Ustadz Mas Lukman dari sidosermo surabaya yakni umat muslim selalu hidup bersih dan suci makanya umat Islam punya 3 bulan khusus untuk urusan cuci – mencuci dari mencuci badan, hati, samapi ruh, yang mana diyakini umat Islam ada 3 (tiga) bulan kesempatan yang penuh berkah. Pertama : Rojab yaitu bulan untuk mencuci badan, kedua : Sa’ban yaitu bulan untuk memcuci hati dan ketiga : Ramadhan bulan untuk mencuci ruh.

Tradisi menjelang Ramadhon banyak dirayakan masyarakat Indonesia, kalau saya yang tinggal di jawa timur ada tradisi “Megengan” untuk menyambut bulan ramadhon lalu bagaimana dengan masyarakat lainnya selain jawa timur? sudah barang tentu masyarakat kita punya tradisi yang berbeda, banyak sekali informasi yang yang menyebutkan Kalau di Jambi ada “Sedekah Arwah”, Jawa Tengah ada “Mapak Poso”, maka di Jogja, Klaten, Solo dan sekitarnya, ada yang namanya “Nyadran”. Kalau di Jawa Timur daerah Tuban dan sekitarnya sampai Surabaya ada “Megengan”. Prosesi dan tujuannya hampir sama semua. Bahkan, di Jogja ada “Padusan” segala.

Ada beberapa yang menyangkal tradisi ini di nilai mendekati takhayul atau bahkan syirik karena memang tidak ada satu hadist pun yang menyarankan untuk merayakan atau menyambut bulan puasa dengan berbagai kegiatan tersebut Dalam sebuah literature menyebutkan, bahwa salah satu sumber pengetahuan (knowledge) adalah mitos, takhayul, dan tradisi. Jadi, biarlah itu berlangsung sesuai waktu dan jaman. Biarkan menjadi pemerkaya budaya Indonesia saja. Inilah kekayaan budaya Indonesia memang seni tidak akan bisa jadi agama namun agama akan mewujudkan seni dan budaya bagi masyarakat yang meyakininya. Baik buruk tindakan dan perilaku tergantung dari niat masing-masing dan cara mengemas kegiatan tersebut apakah bermanfaat baik atau buruk bagi orang lain.

Kebenaran sejati hanya milik Tuhan
Huallahu a’lam bishowaf …

Komentar
  1. fathir mengatakan:

    mohon izin buat baca – baca artikelnya bro….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s